Jumat, 01 April 2016

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR "MANUSIA DAN KEADILAN"




 MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
"MANUSIA DAN KEADILAN"

Nama:  Al Fajrian
NPM:   10115440
Kelas:     1 KA 29 
 

UNIVERSITAS GUNADARMA
SISTEM INFORMASI
2016
KATA PENGANTAR

Puja dan puji Syukur saya panjatkan kepada ALLAH SWT, karena masih melimpahan Rahmat serta Karunia-nya sehingga saya dapat menyusun makalah ini dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam makalah ini saya akan membahas  “Manusia dan Keadilan”.
Makalah ini dibuat berasal dari beberapa sumber dan beberapa bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan masalah, kendala dan hambatan selama mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih yang kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini baik secara langsung maupun tak langsung.
  Saya sadar bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini. Oleh karena itu saya mengajak pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang dapat membangun. Kritikan dari pembaca sangat saya harapkan untuk penyempurnaan pembuatan makalah-makalah yang akan saya buat selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Bekasi, 02 April 2016
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
 Bab I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B. Tujuan
 Bab II PEMBAHASAN
               1.      Pengertian Keadilan dan Menurut Tokoh
               2.   Arti Kejujuran
               3.   Arti Kecurangan
               4.   Pemulihan Nama Baik
               5.   Arti Pembalasan
 Bab III KESIMPULAN

 Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
                  Sebagian besar kita sudah banyak mengetahui, bahwa di negara kita Indonesia ini masih banyak ketidak adilan yang menyelimputi. Baik dari ketata pemerintahannya maupun rakyatnya. Entah disengaja ataupun tidak, diera ini rasa keadilan seperti sudah dilupakan. Banyak dari kita seolah-olah sudah tidak peduli akan rasa keadilan antar sesama makhluk hidup. Khususnya Manusia dengan manusia. Apabila di negara ini keadilan tercipta sama rata baik di ketata pemerintahannya maupun rakyatnya, maka saya yakin tidak akan terjadi perotes yang disertai kekerasan, kemiskinan yang bekepanjangan, perampokan, kelaparan, gizi buruk dll. 
B. Tujuan 
Tujuan dari penyususan makalah ini adalah sebagai bahan materi mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Dan semoga pembaca dapat mendapat informasi serta memunculkan lagi rasa keadilan terhadap sesama yang sebelumnya seperti terlupakan.
BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN KEADILAN DAN MACAMNYA
A. Pengertian Keadilan
          
                 Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran". Tapi, menurut kebanyakan teori juga, keadilan belum lagi tercapai: "Kita tidak hidup di dunia yang adil". Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.
Keadilan menurut Tokoh
  •          Menurut Aristoteles, Keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil. 
  •         Menurut Plato, Keadilan adalah berasal pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal. 
B. Pengertian Keadilan Sosial
 
               Keadilan sosial adalah sebuah konsep yang membuat para filsuf terkagum-kagum sejak Plato membantah filsuf muda, ThrasyMachus, karena ia menyatakan bahwa keadilan adalah apa pun yang ditentukan oleh si terkuat. Dalam Republik, Plato meresmikan alasan bahwa sebuah negara ideal akan bersandar pada empat sifat baik: kebijakan, keberanian, pantangan (atau keprihatinan), dan keadilan.
Penambahan kata sosial adalah untuk membedakan keadilan sosial dengan konsep keadilan dalam hukum.


2. ARTI KEJUJURAN


         Kejujuran adalah sikap atau tindakan atau perkataan manusia yang murni berasal benar benar dari hati tanpa ada penambahan atau pengurangan sikap sedikitpun. Menyampaikan apa adanya sesuai dengan fakta yang tengah terjadi ataupun yang tengah dirasakan. Kejujuran juga dapat menimbulkan keindahan dan juga menimbulkan kesedihan. Kejujuran yang menimbulkan  keindahan adalah Ketika seseorang menyampaikan sesuatu hal kejujuran kepada orang lain dan tanpa di harapkan, seseorang yang jujur tersebut mendapat sesuatu hal yang membuat seseorang tersebut menjadi bahagia. Kejujuran yang menimbulkan kesedihan adalah ketika seseorang menyampaikan sesuatu hal kejujuran kepada orang lain dan tanpa di harapkan, seseorang yang jujur tersebut malah mendapat sesuatu hal yang membuat seseorang tersebut menjadi kecewa.
         Namun begitu, kejujuran tidaklah mudah untuk dilakukan. Meskipun kejujuran tersebut terlihat mudah. Masih banyak orang yang tidak bertindak atau berkata jujur, bahkan tidak jarang membohongi diri sendiri.

3. ARTI KECURANGAN

         Kecurangan adalah sikap atau tindakan buruk manusia yang dilandasi kebohongan, tidak dari hati dan telah di tambah dan bahkan di kurangi pada sikap atau tindakan yang tengah dilakukannya. Hal inilah yang sering dilakukan oleh manusia. Baik kecurangan di lakukan baik sengaja atau tidak, hal yang di curangi tersebut banyak atau sedikit, sikap atau tindakan tersebut telah merugikan bukan hanya dirinya namun juga orang lain. Bahkan sikap atau tindakan kecurangan bisa dikatakan tindakan kriminalitas dan sudah dinauingi oleh hukum. Jadi siapapun orangnya apabila melakukan tindakan kecurangan dan ternyata ter"endus" serta terlacak gerak geriknya, jangan harap bisa lolos dari hukum. Meskipun diluaran sana banyak kasus kecurangan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok yang sudah terbongkar dan tengah diproses oleh hukum namun orang tersebut masih bisa lolos dari jerat hukum, sesungguhnya seseorang atau kelompok tersebut tidak bisa lolos dari siapun, karena masih ada tuhan yang mengawasi dan maha adil untuk mengadili orang orang yang berbuat kecurangan!

4. PEMULIHAN NAMA BAIK

           Nama adalah sematan atau pemberian lahir dari orangtua yang memiliki arti, makna dan harapan untuk kita. Masing-masing arti dari nama yang disandang oleh sesorang pasti memiliki tujuan yang baik. Maka dari itu, kita pun sebagai si pemilik nama harus menjaganya dengan baik pula. Cara menjaganya harus dengan sikap yang baik, perilaku yang baik dan atitude yang baik sehingga perbuatan dan nama kita pun selaras kebaikannya. Sikap, perilaku, atitude dan perbuatan yang baik disini maksudnya adalah kita harus bisa menjaga gerak gerik kita agar sopan, santun, baik dalam berbahasa, ramah, saling menolong, bergaul dengan baik dsb agar kita dipandang baik dan pencitraan yang baik juga.
Namun bagaimana apabila seseorang tersandung sebuah masalah dan ingin memulihkan namanya agar baik kembali? Caranya dia harus mengembalikan rasa kepercayaan orang orang disekelilingya kembali! Bahwa sebuah "labeling" buruk yang pernah melekat didirinya sudah hilang. Dia harus ekstra keras membangun kembali kebaikan-kebaikan apa-apa saja yang pernah ada didirinya.  

5. ARTI PEMBALASAN

         Teori-teori pemidanaan berkembang mengikuti dinamika kehidupan masyarakat sebagai reaksi dari timbul dan berkembangnya kejahatan itu sendiri yang senantiasa mewarnai kehidupan sosial masyarakat dari masa ke masa. Dalam dunia ilmu hukum pidana itu sendiri, berkembang beberapa teori tentang tujuan pemidanaan, salah satunya yaitu teori absolut (retributif).
         Teori absolut (teori retributif), memandang bahwa pemidanaan merupakan pembalasan atas kesalahan yang telah dilakukan, jadi berorientasi pada perbuatan dan terletak pada kejahatan itu sendiri. Pemidanaan diberikan karena si pelaku harus menerima sanksi itu demi kesalahannya. Menurut teori ini, dasar hukuman harus dicari dari kejahatan itu sendiri, karena kejahatan itu telah menimbulkan penderitaan bagi orang lain, sebagai imbalannya (vergelding) si pelaku harus diberi penderitaan.
         Setiap kejahatan harus diikuti dengan pidana, tidak boleh tidak, tanpa tawar menawar. Seseorang mendapat pidana oleh karena melakukan kejahatan. Tidak dilihat akibat-akibat apapun yang timbul dengan dijatuhkannya pidana, tidak peduli apakah masyarakat mungkin akan dirugikan. Pembalasan sebagai alasan untuk memidana suatu kejahatan.
BAB III
KESIMPULAN 
1.      Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang.

2.      Kejujuran artinya sikap atau tindakan atau perkataan manusia yang murni berasal benar benar dari hati tanpa ada penambahan atau pengurangan sikap sedikitpun. Menyampaikan apa adanya sesuai dengan fakta yang tengah terjadi ataupun yang tengah dirasakan.

3.      Kecurangan artinya sikap atau tindakan buruk manusia yang dilandasi kebohongan, tidak dari hati dan telah di tambah dan bahkan di kurangi pada sikap atau tindakan yang tengah dilakukannya.


4.      Pemulihan nama baik adalah mengembalikan rasa kepercayaan orang orang disekelilingya kembali dan menghilangkan "labeling" buruk yang pernah melekat didirinya. Serta membangun kembali kebaikan-kebaikan apa-apa saja yang pernah ada didirinya. Sehingga seseorang tersebut dipandang baik dan pencitraan yang baik kembali tersemat.
5.      Pemidanaan merupakan reaksi yang timbul dan berkembangnya dari kejahatan itu sendiri yang senantiasa mewarnai kehidupan sosial masyarakat dari masa ke masa. pemidanaan merupakan pembalasan atas kesalahan yang telah dilakukan, jadi berorientasi pada perbuatan dan terletak pada kejahatan itu sendiri. Pemidanaan diberikan karena si pelaku harus menerima sanksi itu demi kesalahannya.




DAFTAR PUSTAKA 
 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar